Uncategorized

Penutup Aib

Semua orang sepertinya punya aib, di masa lalu, entah besar atau kecil. Terkadang mulut ini gatal sekali ingin menceritakan (aka curhat) aib kita yang menjadi alasan atas kelalaian yang menjadi buah dari aib tersebut. Namun aib tetap aib, bagaimanapun kita ingin melupakan dan menanggalkannya.

Sebegitu bahaya dan memalukannya aib, ternyata memang manusia sendirilah yang mengumbarnya hingga ia diketahui orang lain. Dalam buku Bahaya Lisan yang ditulis Aa Gym, terdapat beberapa keutamaan menjaga lisan dimana salah satunya adalah sebagai penutup aib. Berikut isinya:

Lisan yang tak terkendali membuat kita mengucapkan apa saja yang ingin diucapkan tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Mungkin apa yang terucap oleh lisan kita bisa merusak citra diri karena keburukan kita akan terungkap padahal sebelumnya orang lain tidak tahu tentang hal itu. Ketika kita terampil menjaga lisan walaupun kita memiliki banyak kekurangan, Allah akan menutup aib kita.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa menahan lisannya (dari mengucapkan keburukan dan perkataan sia-sia), niscaya Allah menutup aurat (aib)-nya.” (HR Ibn Abi Dunya).

 

Lidah memang mudah sekali berkata. Jika kita tidak bisa mengendalikannya, akan mudah sekali kita terjerumus kepada sesuatu yang memalukan. Karena itu, Allah SWT tidak akan melindungi atau menutup aib kita bila lisan ini hanya melepas kata-kata keji.

 

DIriwayatkan pula bahwa Quss ibn Saidah dan Aktsam ibn Shayfi sedang berkumpul, kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada temannya,
“Berapa aib yang kau temukan pada manusia?”
“Tidak terhitung”
“Yang bisa kuhitung hanya delapan ribu aib. Namun, ada satu perbuatan yang jika kau pelihara, niscaya akan menutupi semua aib yang ada”
“Apakah itu?”
“Menjaga lisan,” ujarnya.

Aib. Gelap masa lalu. Bisakah kau menguap saja? Menguap dari kami, mereka; subjek-objek masa lalu.

Uncategorized

UPS! part 1

ups!
pernah merasa salah ngomong?

fatal banget ga sih tuh .. T_T astaghfirullah..

# SALAH NGOMONG YANG PERTAMA
sign:
sengaja
emang darisananya ga sadar kalo salah ngomong

example :
(di mall)
(orang 1 : cewek. krudungan gede. pake rok. stelannya muslimah tulenlah.)
(orang 2 : temen si cewek 1)
(pak satpam yang biasa ngider di mall)
ce 1 : ‘pak, toko buku di mall ini di mana ya?’
satpam : ‘ oh ada .. turun eskalator ini, trus belok kanan ya bu’
ce 1 : (ternganga sebentar. keki. dan buru2 kabur) ‘makasih’
ce 2 : (ngakak)

oke, itu salah ngomong. tapi apa daya si pelaku ga sadar. dan si korban cuma bisa berserapah-ria mengeluarkan kata2 tanda ga terima.
adakah perubahan?
hmm mungkin iya.
Continue reading “UPS! part 1”