Uncategorized

Oleh-oleh dari Fridaypreneurship

Saat ini, jujur, lagi bingung banget mau ngapain setelah lulus. Niat hati ingin  menjadi ibu rumah tangga aja, tapi kata mama sih bakal bosen kalo ‘hanya’ jadi ibu rumah tangga. Mama yang punya 7 anak aja bilang gitu, apalagi kalo saya punya anak yang jumlahnya lebih sedikit (mungkin). Walaupun memang menjadi ibu rumah tangga adalah ‘pekerjaan’ mulia karena dengannya Allah cinta dan karenanya ‘gaji’ yang diperoleh adalah kasih sayang yang tulus, tapi rasanya jatah hidup terlalu sayang untuk dilewatkan jika hanya mengurus keluarga sendiri saja. ada tetangga. Ada anak-anaknya tetangga. ada keluarganya teman-teman kerja si suami. ada anak-anak negeri. Ada manusia di bumi. Itu baru manusia, belum ciptaanNya yang lain.

Bayangkan. Mendidik anak-anak kita sendiri aja berarti membangun masa depan. Gimana kalau kita bisa mengurus hal lain selain anak-anak kita dengan baik? Ini bukan berarti saya kepedean bakal jadi ibu yang oke kece badai banget gitu.. tapi siapa yang gamau kan ya, jadi ibu yang sukses dunia akhirat? 😀

Ah kan. Bahasannya meluas dan ga fokus deh jadinya.

Kembali ke karir. Saya bingung banget mau kerja atau berwirausaha setelah lulus nanti. Pada suatu ketika, saya melihat spanduk seminar di Boulevard. Fridaypreneurship. Seminar ini diadakan oleh prodi Kewirausahaan SBM ITB, dengan pembicara Andara Rainy Ayudini. Kalimat yang membuat saya langsung menghubungi CP buat mendaftar : ‘Live once, be an entrepeneur’. Mudah-mudahan ini salah satu jalan Allah memberikan jawaban atas kebingungan saya.

Akhirnya jumat itu saya menghadiri seminar ini. Tentang pembicara; Andara dulunya mahasiswi Planologi ITB angkatan 2005. Semasa kuliah, beliau pernah menjadi None Jakarta, kemudian menjadi Putri Pariwisata 2009. Ia dan seorang temannya ingin berbisnis, dan akhirnya memutuskan untuk membuat bisnis tas batik. Kenapa beliau ingin berbisnis? Visi hidupnya adalah menjadi seorang ibu yang punya banyak waktu bebas dengan anak-anaknya, namun ingin tetap produktif. Pada saat itu, melanjutkan profesi di planologi tampaknya tidak menjadi jalan baginya. Bukannya beliau tidak mencoba untuk bekerja di planologi, namun tidak diterima. Dan ia percaya bahwa itu bukanlah jalan yang ditunjukkan olehNya. Maka semakin mantaplah ia untuk menjejakkan kaki sebagai pebisnis.

Dalam penjelasannya, ia memiliki 5 alasan terbesar mengapa ia memilih berbisnis.

  1. Opportunity. Ia memiliki kesempatan dengan jalan yang sudah dimiliki.
  2. Responsibility to society. Kalau ga salah, ini tentang bagaimana kita punya tanggung jawab untuk membuka lahan pekerjaan untuk orang lain. Kalau ga salah ya.
  3. Family. Keinginan untuk menjadi ibu yang punya banyak waktu fleksibel untuk keluarga.
  4. Accomplishment. Menjadi wirausaha tentunya berarti punya target-target sendiri untuk mengukur kemajuan diri. Seru banget yang namanya menyelesaikan target yang kita buat sendiri!
  5. Freedom. Menjadi wirausaha itu berarti bebas menentukan segalanya sendiri.

Bakat bisnis sudah terasa sejak lama. Maklum, keturunan Padang, ga bisa lihat lapak kosong, begitu katanya. Ketika kuliah, ia pernah menjual parfum yang dibuat paket lucu. Ia tidak memasarkan itu ke teman perempuan, karena dia tau kalau perempuan tau harga aslinya. Dia menawarkan kepada para lelaki, ‘ini lho hadiah buat cewek lo, cewek lo pasti suka’. Begitulah 🙂

Bisnis yang ia pilih adalah bisnis tas batik dengan kualitas premium. Kenapa batik? Karena ia ingin memperkenalkan budaya Indonesia. Karena itulah ia lebih suka disebut sebagai culturepreneur. Batik yang menjadi bagian dari tasnya itu adalah batik tulis atau cap-tulis. Ia tidak memilih batik cap untuk menjaga kualitas tasnya. Batik yang ia jual memiliki harga ratusan ribu hingga 1jutaan. Saya baru tahu bahwa tas batik itu lebih menjual batiknya daripada tasnya. Batik sebagai komponen dalam tas dibuat sedemikian rupa sehingga aksen batik pada tas itu muncul dengan kuat. Selama ini, saya pikir, tas batik itu hanya ‘memunculkan’ ornamen batiknya saja. Ilmu baru.

Dalam pelaksanaannya, ada berbagai macam prinsip yang dipegang oleh pemilik usaha. Beda mas Egar (nanti saya ceritain di post lain), beda mbak Andara. Mbak Andara memegang prinsip: sebagai pemilik usaha, kamu hanya cukup mengetahui poin-poin penting yang dilakukan oleh pegawai. Misal nih, untuk membuat tas, kamu ga harus bisa membuat tas. Ga harus tau gimana cara ngelem, gimana ngejahitnya, dan lain-lain. Kamu cuma harus tau yang perlu kamu tau. Yang perlu kamu tau biar kamu ga dibodohi oleh pegawai. Biarkan aja pekerjaan pegawai, itu adalah pekerjaan mereka.

Untuk membuat survey pasar, ia merangkumnya menjadi rumus ANDARA :p (analysis, data dan rational). Analisis kondisi pasar seperti apa, apa yang dicari orang, mau terjun di level konsumen yang mana, semua dianalisa. Analisa ini berasal dari data dan nantinya juga akan menjadi data lagi. Dalam melakukan proses analisa ini, tentu ada sisi rasional sebelum memutuskan bisnis apa yang akan dilakoni.

Kemudian ia menceritakan perjalanan bisnisnya. Dalam setiap perjalanan bisnis pasti memiliki berbagai fase. Fase dimana ada kemudahan dan hambatan. Kemudahan yang ia peroleh adalah adanya jalan yang ia punya. Sebagai seorang Putri Pariwisata dan None Jakarta, ia memiliki banyak network apalagi untuk pasaran kelas menengah ke atas. Pun link ke media. Sehingga jalan itu sudah ada dan ia tinggal memanfaatkannya. Ia juga memiliki bakat komunikasi yang baik. Dan menurutnya juga, komunikasi yang baik itu bisa jadi modal yang baik untuk para wirausaha. Ia mengajarkan bahwa poin penting yang harus dikatakan seorang wirausaha adalah: gimana pinter-pinternya kita ngomong aja sih. Misalnya, ketika ia berada dalam aja putri pariwisata, ia ditanya IPK. Saat itu, ia ber-IP 3,8, sedangkan pada saat TPB ia punya IP yang kecil (biasalah ya). Kalau dia bilang IPK, maka yang keluar bakal angka 2 koma. Akhirnya ia berkata begini ke juri: ‘maaf, saya belum hitung IPK saya karena IP saya baru keluar. IP saya semester kemarin 3,8‘. hahahah. Katakan apa yang jujur tapi menguntungkan kita. Ga semuanya harus kita beritahu, tapi pilih-pilih dan pikirkan sebelum berkata-kata. Jadi, untuk orang yang mempunyai keterbatasan dalam berkomunikasi, tentang saja, itu bisa dipelajari dan di-akal-akal-in ;p

Hambatan yang ia temukan salah satunya adalah ketika partnernya akan keluar negeri mengikuti suaminya. Setelah berdiskusi, akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikan bisnis mereka saat itu (tas dengan merek etnika). Andara akhirnya meneruskan bisnis tas tersebut dengan merek baru yaitu Andara. Saat itu adalah saat-saat yang berat, karena rasanya seperti memulai lagi dari nol. Langkah awal yang dilakukannya adalah dengan mencari timing yang tepat dimana ia bisa memperkenalkan brand barunya. Sebuah masa yang sulit karena orang lain sudah mengetahui kalau ‘oh Mbak Andara itu yang punya Etnika’. Beberapa saat setelah itu, ia mendapatkan tawaran proyek di pertemuan APEC. Saat itu ia memberikan tas dengan atas nama Andara, bukan Etnika. Di situlah saat dimana hambatan yang ada mulai bisa diatasi.

Ohya, tentang branding. Ini adalah salah satu poin penting dari tips yang ia berikan. Ada tips bernama PDB. Apa itu?

  1. Positioning (lupa banget penjelasan yang ini. ke-skip karena main HP kayaknya –‘)
  2. Differentiation. Intinya adalah bagaimana produk kita memiliki perbedaan dengan produk sejenis.
  3. Branding. Ketika seseorang menanyakan, ‘Mbak Andara, saya bisa pesan Etnika-nya?’, itu adalah saat yang menyenangkan karena konsumen tidak lagi mengatakan ‘saya bisa pesan tas-nya?’. Contoh brand yang sukses adalah aqua, baygon. Tentunya kita lebih sering bilang ‘beli aqua yuk’ dibandingkan ‘beli air mineral yuk’, ya kan?

Mungkin segitu aja cerita yang bisa dibawa dari Fridaypreneurship. Pelajaran yang paling berharga selama saya mengikuti seminar ini adalah bahwa visi menjadi seorang ibu yang baik bukanlah suatu mimpi buruk yang bisa menghentikan produktivitas kita. Dan tentang kebingungan saya tentang apa yang akan jalani di masa depan, saya masih belum menentukan. Beresin TA dulu sih yang penting hahaha.

Semangat ya, para Mommypreneur dan calon Mommypreneur! 😀

Terima kasih mbak Andara untuk ilmunya, good luck!

fridaypreneurshipmbak Andara lagi beraksi 😀

Buku

Sedikit Cerita tentang Antologi Rasa

Tulisan ini, entah review atau opini, pastinya disini saya akan menuliskan tanggapan saya setelah membaca novel Antalogi Rasa karya Ika Natassa. Sebuah ukuran waktu yang cukup lama, dimana saya menyelesaikan buku itu baru kemarin padahal buku itu sudah terbit 2 tahun lalu daaan padahal saya suka banget sama tulisan si mbak Ika. Mungkin karena terkena sindrom no-metropop-novel-in-my-last-two-years, hahah. Kemarin baca pun karena kangen sama bacaan beginian. Pertama kali baca novel Ika Natassa adalah novel A Very Yuppy Wedding, waktu itu kalau ga salah ketika saya masih SMA. Pinjaman teman, kalau boleh dikatakan sih tukeran buku setelah berkunjung ke book fair. As long as I read her book, I think AVYW is still the best. Menceritakan lika liku sepasang manusia menuju pernikahan. Kesan yang masih ada sampe sekarang tentang buku itu: so sweet, kya-kya, lugas, kocak, dan nyata banget. Nah nantinya si novel AVYW ini berlanjut ke novel Divortiare, kemudian berlanjut lagi ke Twivortiare. Buat yang suka novel metro pop, novel-novel Ika Natassa harus banget masuk ke list daftar bacaan yang udah beres lo baca. Saya suka banget cara Ika Natassa menuliskan cerita tersebut. Enak, banyak pelajaran yang dikasih tentang kehidupan tapi ga disampaikan dengan kesan menggurui. Seharian baca juga bakal beres, ga terasa.

Okay, saya ga bahas AVYW dll ya disini, tapi Antologi Rasa.

Image

Di novel ini, Ika bercerita dari sudut pandang masing-masing tokoh. Jadi kita bisa membayangkan isi kepala tiap orang di kejadian yang sama. Kacau lah kalo bisa dibilang. Ika keren banget memerankan setiap tokoh, sampai-sampai ga ada kemiripan antara satu dengan yang lain. Sampai-sampai saya bisa ngebayangin sosok masing-masing tokoh.

Lanjut. Antologi Rasa mengisahkan tiga orang pemeran utama. Keara, Harris dan Ruly. Mereka sohib berempat bareng Denise, tetap sohib walau Denise sudah menikah. Mereka sering banget hangout berempat, dulunya, sebelum Keara dan Harris bertengkar karena suatu hal. Keara punya seorang sahabat yang udah menikah, Dinda. Dinda punya ipar ganteng playboy (sebelas-dua belas sama Harris) bernama Panji.

Keara, Ruly dan Harris kerja di bank yang sama. Keara orangnya blak-blakan, suka fotografi, pinter. Ruly tipikal sikap bokap-bokap tapi ganteng, suka sepakbola. Harris Risjad; Sang Harris Risjad, adalah seorang tampan playboy yang isi kepalanya paling kocak. Ruly dan Harris sama-sama suka F1. Denise tipe cewek anggun, sudah punya suami yang suka jahat, jadi walaupun dia udah punya suami, dia masih suka curhat ke Ruly. Dinda orangnya mirip sama Keara. Tapi dia berubah jadi oke ketika menjalankan tugas sebagai ibu dan istri. Panji mirip Harris, tapi (kalo kata Harris sih) Panji lebih parah. Mereka semua high-class, orang-orang berduit. Semua Islam.

Nah. Keara suka Ruly. Selama 4 tahun, Keara pendam itu. Ruly sukanya sama Denise. Ruly pendam perasaan itu selama 5 tahun. Harris suka Keara. Parahnya,  Denise ga sadar kalau Ruly cinta dia, Ruly ga sadar kalau Keara suka dia, dan Keara ga sadar kalau Harris beneran sayang sama dia. Ciyan kan. Nantinya, Keara ngambil Panji buat jadi pelarian biar ga kepikiran Ruly terus. Kenapa Panji? Karena Keara udah ga temenan sama Harris. Tapi itu justru jadi bumerang buat Keara. Kenapa? Baca aja sendiri ya. Hehe.

Inti ceritanya begitu. Ga seru dan ga banget kan? Iyalah, soalnya saya cuma rangkum serangkum-rangkumnya, hahaha. Mungkin kamu bakal menangkap kesan yang berbeda banget setelah membaca cerita aslinya.

Untuk orang-orang yang hidupnya lurus-lurus aja, saya punya 2 saran. Baca ini, atau ga usah baca sama sekali. Baca ini, supaya tau kehidupan orang lain di luar sana. Orang-orang dengan karir oke, manajemen keuangan oke, dan masih sempat refreshing juga. Dan tentang pergaulan mereka, bagaimana isi kepala mereka, isi hati mereka. Baca ini ketika kamu tau kekuatan dirimu bahwa buku ini ga akan membuat isi buku ini terbawa ke kehidupan kamu, a.k.a terpengaruh. Jika sudah yakin, maka punya modal untuk mengambil pelajaran dari cerita ini.

Jangan baca ini kalau menurutmu untuk mengetahui kehidupan glamour ga perlu sampe baca novel yang berkaitan tentangnya, tau aja udah cukup. Dan jangan baca novel ini kalau setiap baca novel romance kamu langsung galau luar biasa. Santai aja. Kalau kata Keara, ‘santai aja kayak di pantai, selow aja kayak di pulau’.

Akhir sinopsis di novel: Tiga sahabat. Satu pertanyaan. What if in the person that you love, you find a bestfriend instead of a lover?

Uncategorized

SMSan

ceritanya, saya lagi SMSan sama Fatia, si bungsu, 2 SD.
Fatia (F) : “mba leli kapan wisatanya aku lupa”
Leli (L) : “wisata apa? yg wisata kemarin kan mba pipit”
F : “iyakah :)”

besoknya.
F: “katanya mama april tanggal 9 mba leli wisata :)”
L : terdiam. dan baru ngeh. “wisuda, fatiaaa hahaha”. kayaknya fatia salah denger dari mamanya.
F : “mana kutahu”
L : “hahaha”

Doa. Semoga menjadi nyata 🙂

Uncategorized

Pengalaman Berteman dengan Orang Syiah

Catatanku

Kasus bentrokan terkait penganut Syiah di Sampang (Madura) yang menelan korban jiwa membuat saya teringat dengan beberapa teman yang beraliran Syiah. Di Indonesia penganut madzhab Syiah tidak banyak jumlahnya. Syiah populer di Indonesia saat terjadi Revolusi Islam di Iran pada tahun 1980-an, dengan tumbangnya Shah Iran oleh gerakan rakyat yang dipimpin oleh Ayatollah Imam Khomeini. Sejak itu buku-buku yang ditulis oleh kalangan Syiah (baik terjemahan dari Iran maupun tulisan asli dari penulis dalam negri) begitu gencar terbit di tanah air. Salah satu penulis yang terkenal dari Iran bernama Ali Syariati, sedangkan penulis syiah dari Indonesia adalah Kang Jalal (lengkapnya Jalaluddin Rahmat). Penerbit buku yang banyak menerbitkan buku-buku dari kalangan Syiah adalah Mizan. Pemilik Mizan yang bernama Haidar Bagir adalah penganut paham Syiah. Anak-anak Haidar Bagir kabarnya disekolahkan di Iran. Buku-buku revolusi Islam dari Iran itu banyak menginspirasi aktivis Islam saat itu. Saya ingat teman-teman saya di Masjid Salman waktu itu…

View original post 722 more words

Uncategorized

Maut

Sejauh apapun kamu berlari menghindarinya, sebanyak apapun harta yang kau bayar untuk melawannya, sungguh itu semua tidak ada apa-apanya ketika waktumu memang sudah tiba. Entah dengan jalan apapun; sakit, kecelakaan, atau bahkan ketika sedang melakukan aktivitas sehari-hari. Jangan sampai kita menyalahkan orang lain sebagai penyebab atas kematian seseorang. Jangan pula terlalu mengagung-agungkan seseorang ketika seseorang selamat di tangannya. Karena dalam hal separah apapun, ketika memang bukan saat itu ajal akan menjemputnya, maka orang tersebut tidak akan mati.

Ada kisah tentang kematian, entah fiktif atau tidak. Ada seorang lelaki yang sangat takut menghadapi kematian. Ia pergi dari tempat tinggalnya, dan melakukan perjalanan keliling dunia, berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena menganggap jika ia tetap berada di tempat tinggalnya, maka ia akan dijemput maut. Hingga sampai ia di sebuah tempat, ia tanpa sengaja bertemu dengan Izrail. Izrail berkata, “Kemana saja kamu? Saya sudah menunggumu disini.”

Wallahu a’lam.