renungan · share

Dia, Panutan

Sudah 2 bulan lebih ditemani kendaraan. Sampai saya mengetik tulisan ini, saya dan dia telah menempuh jarak kurang lebih 1100 km. Berbagai pengalaman pun sudah kita alami bersama, baik pengalaman manis semanis kamu maupun pahit sepahit kamu juga. Zzz.

Ya, baiklah.

Siapa di antara kamu yang seorang pengemudi motor? Berapa jarak motormu dengan kendaraan lain di depanmu? Ada kah tu kiranya sekitar 1 meter? Atau 2 meter? Atau 3? Atau kamu seorang paranoid yang mengemudi di sisi super kiri jalan tanpa ada aral melintang (alias area pedestrian)?

Ada satu pengalaman tentang jarak kendaraan si dia (ya sebut saja si dia, entah dengan nama apapun dia dipanggil orangtuanya) dengan si aku. Si dia mengemudi mobil. Si aku mengemudi motor. Saat itu kami jalan beriringan. Diiringi gerimis. Jarak kami hanya terpaut 1 meter. Si aku berada di posisi tepat di tengah belakang si dia. Apa yang ada di depan mata hanya si dia, hanya si dia. Jalan hanya tampak jika menunduk.

Dan tiba-tiba tampaklah sebuah lubang super besar. Si dia sukses melaluinya karena sisi kiri rodanya masih dapat menjangkau area jalan. Si aku? Sukses kaget, dan mengerem sebagai tindak penyelamatan pertama. Tapi karena jalan berbatu kerikil dan banyak pasir, apa daya, jatuhlah kami, sukses menjadi tontonan jalanan yang padat merayap sore itu.

Sayang sekali, tidak ada rekaman.

Suruh siapa jalan ngikutin si dia? Salah siapa ada lubang di situ? Salah siapa ngikutin dia dari sumbu tengahnya, kenapa nggak ngikutin gerak-gerik mobil dengan tepat aja, tanpa terlalu berharap si dia akan selalu melewati jalan yang bagus?

 

***

Suatu hari yang lain.

Ani adalah seorang akhwat (sebut saja begitu karena dia adalah seorang wanita). Dia memiliki seseorang yang ia puji karena akhlaqnya, penampilannya, tutur katanya. Seseorang itu adalah seorang akhwat seniornya di sekolah, sekaligus mentornya dulu. Beliau adalah salah satu alasan Ani untuk menggali ilmu agama lebih dalam. Ani sungguh termotivasi oleh beliau. Ani termotivasi untuk dapat menjadi seorang wanita yang shalihah, yang bermanfaat untuk orang lain semasa ia hidup ataupun saat ia telah wafat nanti.

Ani mulai berkerudung lebar. Ani juga rutin melaksanakan ibadah sunnah karena ia teringat nasihat dari teteh tersebut tentang kemuliaan ibadah sunnah. Ani terus berusaha, dan terus berusaha. Dan di mata Ani, teteh itu telah menjadi idolanya, telah menjadi wujud manusia tanpa cela.

Namun suatu ketika, ia mendapati sang teteh kebanggaannya melakukan suatu kesalahan. Cela itu sungguh mengagetkannya, sungguh sungguh mengagetkan. ‘Kenapa teteh itu seperti itu? Bukannya teteh nggak mungkin berbuat seperti itu? Padahal teteh tahu, kenapa hal tersebut tetap dilakukan? Kenapa teh?’ . Luluh lantak hatinya, sang idola tak sesempurna bayangannya.

Ia lupa kalau teteh idolanya hanya seorang manusia biasa. Ia sungguh lupa. Bukan, ia bukan terperdaya. Ia sama sekali tidak terperdaya. Ia hanya menaruh kepercayaan yang begitu tinggi. Kepercayaan yang tidak seharusnya, karena kepercayaannya itu bertentangan dengan apa yang sudah menjadi fitrah.

Seperti ditulis oleh Salim A. Fillah dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang, sebuah kalimat yang dikutip dari Anis Matta,“Kita lemah karena posisi jiwa kita yang salah. Sperti ini, kita mencintai seseorang lalu kita menggantungkan kebahagiaan kita pada sebuah kehidupan bersamanya. Maka ketika ia menolak -atau tak berkesempatan-, untuk hidup bersama kita, itu menjadi sumber kesengsaraan.”

Salim A. Fillah menambahkan dalam paragraf yang sama, “Kita menderita, bukan karena kita mencintai. Dan mungkin juga bukan karena cinta itu sendiri. Tapi karena kita meletakkan kebahagiaan kita pada cinta yang diterjemahkan sebagai kebersamaan”

Kita tidak sedang membahas cinta di sini, tapi penempatan cinta dan ‘harapan pada sang idola’ nampaknya memiliki kemiripan di sini.

Mirip dengan kisah pertama, kisah ini ditutup dengan pertanyaan, suruh siapa jalan ngikutin si dia? Salah siapa ada lubang di situ? Salah siapa ngikutin si dia dari sisi yang salah, kenapa nggak ngikutin nasihat-nasihatnya aja, tanpa terlalu berharap dia akan selalu melewati  jalan yang bagus?

 

***

Kita manusia. Manusia biasa, yang ilmu agama juga masih harus dilahap banyak-banyak. Bukan manusia yang telah mengkaji sekian ratus kitab sehingga dapat men-judge, menyalahkan, mengikuti siapapun itu sebagai rujukan tanpa cela. Salah siapa? Bukan saatnya menyalahkan siapa-siapa ternyata, hanya perlu melongok ke dalam diri lebih jauh lagi, ada apa di sana.

Lalu, mobil macam apa yang harus diikuti? Dia yang tanpa cela? Yang kita takkan timbul rasa kecewa padanya?

Kamu pasti tau, saya yakin 🙂

share

Al-Khaliq

walaupun jadul, ini tetep KEREN!

tapi berarti Tuhan gw jauh lebih KEREN!

karena Dia yang menciptakan orang yang menciptakan si biggest smallest movie ini, dan karena mahakaryanya jauh lebih oke dan sempurna dari ini. Ya Allah.. 🙂

share

Tentang Menahan Diri

Pernah ada sebuah survey. Beberapa orang anak diberikan ujian soal di dalam sebuah ruangan. Mereka tidak boleh berbuat curang dalam mengerjakannya. Kemudian pengawas tersebut keluar dari ruangan, tapi beberapa saat kemudian beliau mengintip ke dalam kelas. Beliau melihat siapa saja yang berbuat curang dan siapa yang tidak.

Years later.

Anak-anak yang dulunya tidak berbuat curang nyatanya lebih sukses daripada teman lainnya.

Itu kisah dari dosen saya beberapa hari yang lalu.

Jadi? Ya begitulah salah satu hadiah untuk orang-orang yang menahan diri. Sulit memang tapi itu kan tantangan. Saya juga pernah *ofcourse* ga bisa menahan diri, dan akibatnya langsung saya rasakan saat itu juga. Ada yang jangka lama, ada yang jangka pendek. Ngerilah.

Kalau contoh menahan diri di kehidupan nyata, apa? Banyak.

Menahan diri untuk tidak menaruh barang sembarangan, maka kamarmu rapi dalam waktu yang cukup lama.
Menahan diri untuk tidak buang sampah di jalan, maka kalau 100.000.000 warga Indonesia melakukan hal yang sama denganmu, beberapa bulan lagi Indonesia udah nyaingin Jepang #eaa
Menahan diri untuk tidak meneruskan tidur di sepertiga malam, maka akan kamu rasakan nikmatnya curhat denganNya.
Menahan diri untuk tidak marah, maka kamu mendapat kesempatan pahala sabar, tercegah dari satu pintu neraka, dan menambah poin kedewasaan.
Menahan diri untuk tidak berkata buruk, maka lidahmu akan berbahagia karena ia tidak menjadi pemberat timbangan kirimu di yaumul mizan kelak.
Menahan diri untuk tetap menjaga fitrah, maka…hmm coba baca ini.
Dan lain-lain.
Tertulis di buku bestsellernya Malcolm Gladwell, Outliers, bahwa

‘tidak ada seorangpun yang bangun sebelum subuh selama tiga ratus enam puluh hari dalam satu tahun tidak mampu membuat keluarganya kaya raya.’

Cuma karena menahan diri untuk tidak melanjutkan tidur di saat orang lain terlelap! Sus dah B)

Dunia itu tempat ujian menahan diri. Hasil ujiannya keluar nanti, yang hasilnya cuma 2 : antara siksa betul-betul tak tertahan ataukah nikmat yang betul-betul ga nahan deh 😀

share

Introverts

Myth #1 – Introverts don’t like to talk.

This is not true. Introverts just don’t talk unless they have something to say. They hate small talk. Get an introvert talking about something they are interested in, and they won’t shut up for days.

Myth #2 – Introverts are shy.

Shyness has nothing to do with being an Introvert. Introverts are not necessarily afraid of people. What they need is a reason to interact. They don’t interact for the sake of interacting. If you want to talk to an Introvert, just start talking. Don’t worry about being polite.

Myth #3 – Introverts are rude.

Introverts often don’t see a reason for beating around the bush with social pleasantries. They want everyone to just be real and honest. Unfortunately, this is not acceptable in most settings, so Introverts can feel a lot of pressure to fit in, which they find exhausting.

Myth #4 – Introverts don’t like people.

On the contrary, Introverts intensely value the few friends they have. They can count their close friends on one hand. If you are lucky enough for an introvert to consider you a friend, you probably have a loyal ally for life. Once you have earned their respect as being a person of substance, you’re in.

Myth #5 – Introverts don’t like to go out in public.

Nonsense. Introverts just don’t like to go out in public FOR AS LONG. They also like to avoid the complications that are involved in public activities. They take in data and experiences very quickly, and as a result, don’t need to be there for long to “get it.” They’re ready to go home, recharge, and process it all. In fact, recharging is absolutely crucial for Introverts.

Myth #6 – Introverts always want to be alone.

Introverts are perfectly comfortable with their own thoughts. They think a lot. They daydream. They like to have problems to work on, puzzles to solve. But they can also get incredibly lonely if they don’t have anyone to share their discoveries with. They crave an authentic and sincere connection with ONE PERSON at a time.

Myth #7 – Introverts are weird.

Introverts are often individualists. They don’t follow the crowd. They’d prefer to be valued for their novel ways of living. They think for themselves and because of that, they often challenge the norm. They don’t make most decisions based on what is popular or trendy.

Myth #8 – Introverts are aloof nerds.

Introverts are people who primarily look inward, paying close attention to their thoughts and emotions. It’s not that they are incapable of paying attention to what is going on around them, it’s just that their inner world is much more stimulating and rewarding to them.

Myth #9 – Introverts don’t know how to relax and have fun.

Introverts typically relax at home or in nature, not in busy public places. Introverts are not thrill seekers and adrenaline junkies. If there is too much talking and noise going on, they shut down. Their brains are too sensitive to the neurotransmitter called Dopamine. Introverts and Extroverts have different dominant neuro-pathways. Just look it up.

Myth #10 – Introverts can fix themselves and become Extroverts.

Introverts cannot “fix themselves” and deserve respect for their natural temperament and contributions to the human race. In fact, one study (Silverman, 1986) showed that the percentage of Introverts increases with IQ.

source : www.carlkingcreative.com

renungan · share

[Share] Neraka dan Kesengsaraannya

Judulnya serem? Begitulah. Saya mau share salah satu sub-BAB dari buku ‘Bersujud dalam Keheningan; 111 Kiat Agar Anda Mau dan Mampu Melaksanakan Shalat Tahajud’, karya Abu Al-Hamidy. Buku terbitan cukup jadul, cetakan pertama di tahun 2007. Ini buku ‘colongan’ dari rumah. Karena penasaran sekaligus ingin membunuh rasa bosan menunggu, saya buka buku tersebut secara acak. Dan yang terbuka.. ini. Saya salin tanpa perubahan, insyaAllah.

Continue reading “[Share] Neraka dan Kesengsaraannya”

share

[Share] Belajar dari Almh. Rofiko Meila Sari

Repost dari repost-nya temen saya. Semoga ada motivasi dan pelajaran yang dapat dipetik, amin. Menohok ini, kalo kata saya mah 😥

***

Cerita ini berkisah tentang pejuang dakwah yang masih belia. Diceritakan oleh ibundanya (bernama Ibunda Azizah) kepada majalah Tarbawi. Cerita tentang pejuangan dakwah yang ternyata kerinduan Allah untuk bertemu dengannya begitu lebih besar dibandingkan keinginan untuk terus menjadi pejuang dakwah yang tak pernah kehilangan energinya Continue reading “[Share] Belajar dari Almh. Rofiko Meila Sari”