renungan

Kurang dari Sebulan Lagi

Alhamdulillah sekarang kita sudah memasuki bulan Sya’ban 1438 H. Semoga kita diberikan kesempatan oleh Allah untuk bertemu dengan bulan suci Ramadhan.

Pertanyaan yang terlintas begitu masuk bulan Sya’ban adalah ‘udah ngapain aja sejak Ramadhan tahun lalu?’ Membaikkah segalanya? Grafik kehidupan seseorang tentu saja turun naik tiap harinya, tapi kita harus berusaha supaya gradiennya positif. Baik grafik intelektual, emosional, fiskal, spiritual dan finansial harus kita perhatikan agar semuanya membaik. Jangan sampai kita hanya fokus pada satu grafik dan melupakan yang lain, karena akan fatal akibatnya.

Bagaimana mengukurnya? Kita coba catat poin-poin yang bisa kita hitung secara kasat mata. Misal untuk mengukur perkembangan intelektual kita, kita taruh poin: jumlah buku, jumlah seminar, jumlah jam belajar atau bekerja, dan lain-lain. Bisa disertakan juga levelnya apa. Begitupun dengan grafik lainnya. Dari sini, kita bisa mengukur ‘udah-ngapain-aja-sejak-Ramadhan-tahun-lalu’.

Setelah itu apa?

Ada yang bilang, kita ngga perlu punya starting-point-of-the-year, karena kita harus terus memacu diri kita. Itu benar. Tapi saya pribadi lebih sepakat bahwa kita harus punya start point itu, karena start point ini berguna sekali untuk muhasabah atau introspeksi diri. Kalau muhasabah harian untuk mengukur hari itu saja, nah kalau start point ini untuk mengukur diri skala tahunan. Start point ini bermacam-macam pula, ada yang memilih tanggal 1 Januari, ada yang memilih tanggal lahir, ada yang memilih 1 Ramadhan.

Start point Ramadhan sangat baik, karena kita memulainya dengan sesuatu yang tenang namun sangat kuat. Satu bulan kita fokuskan dengan puasa, which is very good for our mind and our body. Makanan ruhani bertaburan dimana-mana. Al-Qur’an, petunjuk hidup manusia, juga diturunkan di bulan ini. Ngga ada bulan yang sebanding dengan bulan Ramadhan, dan ini adalah alasan terbesar kenapa sebaiknya kita memulainya dari sini. Karena mind power (lebih tepatnya imaan power) itu kuat banget kalau kita maksimalin. Insya Allah amunisinya cukup untuk satu tahun. Dengan perawatan tentunya, kalau ngga dirawat ya sami mawon podo wae hehe. Motor saja bisa rusak ya kalau dicuci dan diservisnya setahun sekali.

Sekarang sudah kurang dari satu bulan menjelang starting point itu. Sebagaimana gerakan senam, ada pemanasan sampai pendinginan. Bulan ini sebaiknya kita melakukan pendinginan. Selain mengevaluasi udah-ngapain-aja-sejak-Ramadhan-tahun-lalu, baiknya kita membersihkan diri, dari hutang, dari perasaan bersalah pada seseorang, dari rasa iri dengki dan kerabatnya. Hal-hal muamalah yang kita ingat belum selesai, sebaiknya kita selesaikan. Supaya apa? Supaya lega. Perasaannya mirip-mirip dengan saat pendinginan senam; semriwing kena angin setelah berkeringat. (Jadi, ada yang masih kuhutangi? Tagih yaa huks banyak nih).

Hal lain yang harus dilakukan adalah menyiapkan diri sebelum pemanasan. Pra-pemanasan mungkin ya istilahnya haha. Ibarat mau senam, kita siapkan bekal dulu sebelum berangkat. Pakai baju yang nyaman, sarapan ringan, bawa bekal makanan dan lainnya. Jadi di bulan ini kita siapkan apapun yang diperlukan sebelum masuk pemanasan di Ramadhan. Siapkan hati, siapkan fisik. Ibadah dikencengin, badan dibugarin. Supaya maksimal menjalankan pemanasan di Ramadhan. Jangan sampai kita saat lagi drop-dropnya, tiba-tiba besok udah Ramadhan. Bisa kaget badan dan hati kita.

Intinya, sekarang kita pra-pemanasan yuk! Semoga Allah memberkahi ikhtiar kita untuk menjadi makhluk yang lebih baik.

Uncategorized

Produktif

Produktivitas itu tidak terukur tapi bisa diukur. Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk tetap produktif. Ada yang menganggap bahwa ukuran produktivitasnya adalah jumlah penghasilan uang per hari, jumlah tulisan per minggu, jumlah ide yang ditulis tiap hari, jumlah kanvas bergambar per bulan ataupun jumlah anak per tahun :v

Produktivitas, dikerucutkan ke kata produktif, dikerucutkan ke kata produk. Jadi menurutku, produktivitas adalah menghasilkan sesuatu, bukan melakukan sesuatu. Produktivitas tidak sama dengan aktivitas. Membaca Qur’an sehari 1 juz bukanlah parameter produktivitas. Mengetik selama 5 jam bukanlah parameter produktivitas.

Kenapa harus produktif? Tidak cukupkah dengan aktif?

Aktif cukup. Tapi akan lebih baik jika ada produknya. Banyak manfaatnya jika kita menghasilkan produk. Produk itu dapat bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Setidaknya, produk itu dapat kita lihat dan akan mengingatkan kita ketika kita sedang tidak produktif, bahwa masa-masa produktif itu menyenangkan sekali 🙂

*tulisan pembuka setelah hibernasi* *biar inget*

Uncategorized

Pilpres; Ikhtiar, lalu Istikhoroh

Memilih presiden itu mirip halnya dengan memilih jodoh.

Tak jarang, kita sudah menyukai seseorang namun hasil istikhoroh berkata lain. Dan sebagai bentuk kepercayaan kita padaNya, bahwa Ia tahu mana yang terbaik buat kita, maka kita ikhtiarkan untuk mengikuti hasil istikhoroh itu. Kita percaya, sekali lagi, bahwa Allah akan mengirimkan seseorang yang terbaik untuk kita. Bukan yang sempurna. Tapi -lagi dan lagi- yang terbaik.

Begitupun dengan negara ini. Setelah kita memberi input untuk akal kita agar dipertimbangkan secara logis, lagi-lagi kita harus kembalikan hasil ikhtiar kita itu kepadaNya.

Kebutuhan untuk meminta padaNya ini semakin tinggi jika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan yang baik. Begitupun dengan dua pasang capres-cawapres kali ini. Mereka pasti orang-orang baik karena sudah bersedia mengabdikan dirinya untuk negeri. Bersedia mengabaikan hak-hak dirinya untuk melayani bangsa. Terlepas dari siapa orang di belakang mereka, atau apakah mereka punya tujuan busuk yang tak kita tahu, pastinya mereka adalah orang-orang baik.

Kembali ke premis awal. Kita bisa jadi sudah condong pada satu pilihan, sudah suka pada satu pasangan, namun belum tentu itu yang terbaik. Atau masihkah timbul pikiran, ‘Ah ngapain sih mikir panjang lebar buat nentuin presiden, toh suara gue cuma ngaruh sebiji doang.’

Aku sih NO. Satu suara tuh ngefek banget guys. Apalagi jika kita berdoa pada Allah agar Indonesia dipantaskan untuk mendapatkan pemimpin yang terbaik. Bayangkan kalau ternyata tak hanya kita yang berdoa, namun jutaan rakyat Indonesia yang berdoa seperti itu. InsyaAllah, Allah yang menggerakkan hati dan tangan orang lain untuk mencapai itu. Apa yang ga mungkin sih buat Allah 😉

Namun apalah aku, seorang yang tidak aktif di aktivitas-aktivitas politik ;p Saya cuma bisa berdoa. Saya cuma bisa menahan diri supaya ga ikut-ikutan sebar berita jelek. Saya cuma bisa itu, tidak seperti teman-teman lain yang aktif mengajak masyarakat untuk mencoblos capres yang (katanya) paling sedikit mudharatnya. Mereka yang sudah menyumbangkan pikiran, waktu dan tenaga. Untuk kalian, kudoakan semoga urusan kalian dimudahkan dan dilancarkan, dan juga semoga berkah untuk segala usahanya. 😀

Pemilihan presiden ini berlangsung di bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan. InsyaAllah jarak kita denganNya sedang dekat-dekatnya, maka tak salah jika kita betul-betul meminta padaNya agar Indonesia diberikan pemimpin yang paling pantas.

Uncategorized

Meminta-minta

Rupanya ada sebuah hadits berkenaan dengan meminta-minta.

Dituturkan dari Qabishah ibn Mukharriq r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
“Sesungguhnya meminta-minta tidak dihalalkan kecuali bagi salah satu dari tiga orang, yaitu:
– orang yang menanggung utang orang lain, ia boleh meminta-minta hingga dapat melunasinya, kemudian ia berhenti;
– orang yang terkena musibah yang menghabiskan hartanya, ia boleh meminta-minta hingga mendapatkan sandaran hidup;
– dan orang yang ditimpa kefakiran hingga tiga orang yang mengetahuinya dari kalangan kaumnya berkata, ‘Si Fulan telah ditimpa kefakiran’, ia dibolehkan meminta-minta.”
(HR Muslim)

Berarti, ga ada yaa profesi pengemis 🙂

Dan ini juga berarti, kita bukannya ga boleh sama sekali ga ngasih ke pengemis. Yang dibutuhkan kita ada ‘penyeleksian’ ketika akan memberi. Kalo yang punk-muda-sehat-nyebelin gitu kayaknya kita harus mikir dua kali ya buat ngasih hehe. Terlepas dari apakah ternyata mereka masuk ke dalam salah satu kategori di hadits tersebut, harusnya mereka masih bisa berusaha dengan jalur lain yang lebih layak karena mereka masih muda dan sehat.

Tapi kan ga ada syarat sehat dari hadits di atas?

Betul, memang ga ada. Namun alangkah baiknya ketika kita tidak memberi supaya mereka tidak ketergantungan dengan profesi mengemis atau mengamen (abal-abal) mereka. Doakan saja, supaya harapan agar mereka memilih pekerjaan yang lebih baik itu tercapai. Jangan sampai mereka justru memilih pekerjaan yang lebih buruk dari mengemis dan mengamen.

Kalau yang ngamennya niat sih lumayan ya, menghibur. Yang sampe bikin kita merinding saking kecenya kan ada tuh. Saking bagusnya, saking terhiburnya, ga apa-apa kalau kita ingin memberi. Jadi yang kita bayar adalah penampilannya.

Wallahu a’lam

Uncategorized

Jalan Hidup

Ada 5 jenis manusia dari segi perubahan jalan hidup:
-lurus; yang baik banget di masa muda dan tetap baik banget di masa setelahnya
-yang baik banget di masa muda lalu buruk banget di masa setelahnya
-yang buruk banget di masa muda dan tetap buruk di masa setelahnya
-yang buruk banget di masa muda lalu bertaubat, jadi baik banget di masa setelahnya
-datar; ya datar aja, ga ada momen yang banget-banget

Setiap manusia punya jalan hidup masing-masing. Dan manusia punya alasan mengapa mereka menempuh jalan tsb.

Selain ke-5 tipe itu, ada tipe terakhir: yaitu mereka yang kembali lagi ke jalan seperti saat masih muda.

Ada begitu banyak hal yang mempengaruhi jalan hidup ini. Entah dari doktrin yang kuat, kondisi lingkungan, kondisi keluarga, nafsu, godaan syaithan, dan lain-lain. Pengaruh ini berlaku dalam kondisi sadar-tak sadar.

Maka hak men-judge hanyalah milik Tuhan semata. Manusia? Berbahagialah manusia yg sibuk memikirkan aibnya sendiri hingga tidak sempat memikirkan (apalagi membicarakan) aib orang lain.
Hadiah terindah seseorang bagi saudaranya adalah doa.

*kriteria baik dan buruk ini relatif dan sudah dijelaskan dlm quran & hadits.
*satu kesimpulan obrolan panjang dgn adik malam ini
*ntms

Wallahu ‘alam

curhatcurcol

Dimana ada musibah, disana pasti (banget) ada pesanNya

Halo jagat wordpress, assalamu’alaikum. Saya baru dapet musibah nih, izin curhat ya..

Kenapa saya nge-post ini, yaitu karena saya begitu kaget. Tapi saya ga panik. Kaget tapi tenang. Apa itu ya? Mungkin ada pesan dariNya sehingga membiarkan saya tenang begini?

Malam tadi, di tengah hujan deras, saya memutuskan untuk pulang dari Rumah Mode. Ya, walaupun hujan deras. ‘Ah amanlah, ga apa basah yang penting bisa segera sampai rumah’, pikir saya. Sesampainya di depan Rumod, tepat sebelum jalan raya, rupa-rupanya air yang mengalir di jalan itu layaknya air sungai yang derasnya cocok banget kayaknya buat main arung jeram. Jalanan arah ke atas sepi. Entah apa yang saya pikirkan, saya nekat aja nerobos. ‘Toh cuma deras di bagian pinggir (dekat selokan), yang bagian tengah jalan ga terlalu‘. Tanpa pikir panjang, karena sudah terhantui kenyamanan kamar, maka saya lajukan si motor. Lalu.. jeng jeng. Ketika arus menyentuh roda depan, kekuatan arus sudah terasa. Tapi ga mungkin balik kan. Yowis saya nge-gas lagi. Dan hasilnya, saya full ada di arus, dan sang arus pun mengalahkan gaya tekan motor ke bawah, dan kemudian si ombak menghantam motor, dan saya juga ikut jatuh deh bareng sama motor. Keseret dengan kondisi bagian bawah kaki ketimpa motor. Setelah terseret beberapa meter, Pak security Rumod pun tiba dan dengan mantapnya menarik saya sehingga selamatlah saya, alhamdulillah. Karena arus sangat deras, saya pun menyelamatkan diri ke tengah jalan. Si bapak itu kemudian narik motor saya, dibantu dengan mas-mas lain. Kami pun jalan ke arah atas, mencoba menepi ke tepian yang lebih lemah arusnya. Tapi apa daya teman-teman. Tepi jalan saat itu betul-betul udah kayak sungai, betul-betul ga ngefek kayaknya selokan di bawah sana. Airnya bahkan ga masuk selokan gara-gara selokannya rada jauh dari jalan –‘ Akhirnya kami nekat menepi walaupun harus menerobos arus yang lumayan deras. Motor saya dibawa menepi oleh kurang lebih 5 orang lelaki! Bayangin aja kuat arusnya gimana..

Akhirnya menepilah saya di tempat mamang baso. Berteduh menunggu hujan sedikit reda. Entah kenapa, seperti yang saya sebutin di atas tadi, saya ngerasa kaget tapi ga panik. Malah cengangas-cengenges pas berteduh dan ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak penjual baso, mie ayam dan batagor. Katanya, kalo hujan kayak gini mending di rumah aja, atau berteduh dulu, daripada cepet-cepet pulang tapi bahaya. Udah banyak kejadian keseret kayak gitu. Dulu pernah ada yang keseret dari deket pom bensin setiabudi sampai rumod. Alhamdulillahnya motor dan orang itu ketahan sama angkot yang mogok. Orang itu sampe pingsan 😦 Nyatanya, ketika saya berteduh itu, ada 2 pengemudi lain yang bernasib sama. Allaahu.

Mungkin saya ga panik karena alhamdulillah ga ada dampak fatal dari musibah itu. Cuma lecet-lecet; lecet kaki dan motor. Dan hilangnya kunci, sarung tangan dan sandal. Alhamdulillah banget saya lagi ngga bawa laptop. Bahkan ketika terseret arus, saya ga panik. Saya pasrah. Pasrah banget. Rasanya kayak Allah bilang, ‘Ini Leli sayang, mau cobain rasanya keseret arus? Kamu yang selama ini hidup kalem-kalem aja ga pernah ngerasain banjir kan? Tsunami? Tenggelam di sungai? Ini ya cobain dikit, gimana rasanya tak berdaya, gimana rasanya ada di kondisi yang tidak aman..‘. Dan ketika ada pak security menghampiri mengulurkan tangan, saya akhirnya berusaha meraih tangannya agar tertarik dari arus. Rasanya mau nangis saat itu. Betul-betul ada di ujung rasanya. Mungkin ini memang musibah ‘kecil’, tapi tentunya Allah bisa aja kan ya ngerencanain dampak yang lebih fatal dari sekedar lecet-lecet. Kalau Allah mau, Allah bisa bikin saya bawa laptop, Allah bikin ada benda berbahaya di arus air yang bisa membuat cedera lebih parah, dan lain-lain. Allah nyatanya ingin membuat ‘letupan’ di hati saya. Hanya ingin itu. Betapa sayangnya Ia… Jadi merasa bersalah…

Yah, begitulah. Ohiya, saya juga mau menyampaikan sesuatu. Terlepas dari kenekatan saya menerobos arus air, saya minta tolong banget ke para manusia semuanya, untuk membuang sampah pada tempatnya. Puhlis lah. Sekecil apapun. Udah di-akomodasi-in kan ya sama pemerintah, adanya tempat sampah di pinggir-pinggir jalan itu.

Tingginya limpasan hanya ada di ruas itu aja. Di ruas jalan setelah KFC udah ga deras, karena air limpasan masuk ke selokan. Berarti ruas yang tadi bermasalah dengan air yang ga masuk ke selokan itu, harus ditinjau lagi tuh selokannya. Bahaya banget, karena ruas itu adalah jalanan yang menurun. Air dalam jumlah banyak akan semakin berbahaya kalau memiliki arus kecepatan. Gaswatuna. Entah apakah ada masalah di bagian dalam selokan, tapi curiganya sih ada bagian selokan yang kesumbat, akhirnya air ga masuk ke selokan. Dan slot air buat masuk ke selokan sangat jarang, berhubung di situ lebih banyak yang di-semen bagian atas selokannya. Kalaupun ada slot air masuk, itu agak jauh dari jalan dan ga berada di cekungan pinggir jalan (ah begitulah pokoknya). Kira-kira bisa disuarakan ke siapa ya ini?

Oke, terakhir, terima kasih banyak buat bapak-bapak yang tadi ngebantuin. Jazakumullah khairan katsiran pisan. Bahkan tadi ditraktir baso dong sama bapaknya, huks terharu. Dan tadi ada mas-mas yang kakinya lecet gegara kena batu di arus air. Punteun dan hatur nuhun pisan. Hanya Allah yang bisa membalas. Semoga lancar hidup dan rezekinya ya bapak-bapak 😀

Uncategorized

Penutup Aib

Semua orang sepertinya punya aib, di masa lalu, entah besar atau kecil. Terkadang mulut ini gatal sekali ingin menceritakan (aka curhat) aib kita yang menjadi alasan atas kelalaian yang menjadi buah dari aib tersebut. Namun aib tetap aib, bagaimanapun kita ingin melupakan dan menanggalkannya.

Sebegitu bahaya dan memalukannya aib, ternyata memang manusia sendirilah yang mengumbarnya hingga ia diketahui orang lain. Dalam buku Bahaya Lisan yang ditulis Aa Gym, terdapat beberapa keutamaan menjaga lisan dimana salah satunya adalah sebagai penutup aib. Berikut isinya:

Lisan yang tak terkendali membuat kita mengucapkan apa saja yang ingin diucapkan tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya. Mungkin apa yang terucap oleh lisan kita bisa merusak citra diri karena keburukan kita akan terungkap padahal sebelumnya orang lain tidak tahu tentang hal itu. Ketika kita terampil menjaga lisan walaupun kita memiliki banyak kekurangan, Allah akan menutup aib kita.

 

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa menahan lisannya (dari mengucapkan keburukan dan perkataan sia-sia), niscaya Allah menutup aurat (aib)-nya.” (HR Ibn Abi Dunya).

 

Lidah memang mudah sekali berkata. Jika kita tidak bisa mengendalikannya, akan mudah sekali kita terjerumus kepada sesuatu yang memalukan. Karena itu, Allah SWT tidak akan melindungi atau menutup aib kita bila lisan ini hanya melepas kata-kata keji.

 

DIriwayatkan pula bahwa Quss ibn Saidah dan Aktsam ibn Shayfi sedang berkumpul, kemudian salah seorang dari mereka berkata kepada temannya,
“Berapa aib yang kau temukan pada manusia?”
“Tidak terhitung”
“Yang bisa kuhitung hanya delapan ribu aib. Namun, ada satu perbuatan yang jika kau pelihara, niscaya akan menutupi semua aib yang ada”
“Apakah itu?”
“Menjaga lisan,” ujarnya.

Aib. Gelap masa lalu. Bisakah kau menguap saja? Menguap dari kami, mereka; subjek-objek masa lalu.