Uncategorized

Siap menikah (?)

Tadi habis kumpul dengan teman-teman LT 32 Karisma, dan membahas ini karena satu dan lain hal, hehe. Sungguh sangat berbeda dari topik pembicaraan kami selama ini. Dari obrolan tadi, saya menangkap beberapa hal tentang kesiapan seseorang sebelum menikah.

Sebetulnya agak bingung sih kalau ditanya, sudah siap menikah atau belum? Kalau mau dijawab jujur, pasti masih banyak yang belum siap. Bahkan bisa jadi, ketika seseorang memutuskan untuk menikah, dia sendiri belum betul-betul siap untuk menikah. tapi masa kita harus nunggu siap dulu baru kita menikah? Ga akan nikah-nikah dah, yakin.

Hm, siap nikah itu gimana sih? Kapan kita tau kalau kita udah siap nikah?

Pertanyaan ini pernah ditanyakan dan saya pernah dengar jawabannya. Disebutkan bahwa ketika kita ditanya ‘sudah siap wafat atau belum?’ kita pun ga akan bisa jawab dan rupanya kematian pun bisa banget datang ketika kita belum siap. Maka kita harus selalu menyiapkan diri seolah kita akan wafat detik berikutnya. Begitu analoginya.

Walaupun analogi ‘siap nikah’ dan ‘siap wafat’ ini ga bisa disamain, tapi ada kesamaannya juga.

Ceritanya kita udah sadar nih kalau kita bisa aja meninggal besok, atau menit berikutnya. Namun ga jarang juga kita lupa kalau kita harus nyiapin diri dan pada akhirnya kita melakukan hal yang sia-sia, yang sangat jauh dari yang namanya ‘mempersiapkan diri sebelum wafat’. Memang ga akan bisa sempurna, tapi yang jelas kita harus ikhtiar dan berdoa. Terus menerus. Berikhtiar berbuat baik, mempersiapkan diri, walau terkadang khilaf, tapi lanjut lagi menebus dosa, berbuat baik. Begitu seterusnya. Ini yang disebut belajar. Belajar untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Dalam hidup, kita harus memiliki progres. Ingat, progres. Bukan kesempurnaan. Tapi proses yang baik, yang memiliki progres, kemajuan. Dan berdoa. Berdoa agar Allah memberikan kematian yang khusnul khotimah. Aamiin. Dengan begitu, ketika Allah sudah menghendaki kita untuk wafat, kita sudah siap dengan segala ikhtiar yang telah kita laksanakan, bukan dengan ikhtiar yang cuma wacana. Dengan begitu, kita akan merasa setidaknya lebih ‘lega’ untuk menghadapi kematian dengan kondisi terbaik kita, yang telah kita usahakan.

Itu juga yang terjadi pada kondisi ‘kesiapan menikah’. Butuh dua hal tersebut, . Kita harus terus berikhtiar agar selalu menjadi pribadi yang lebih baik serta selalu memperkaya diri baik dengan ilmu tentang pernikahan maupun ilmu Allah lainnya. Berikhtiar, belajar, berprogres. Juga terus menerus berdoa, paling tidak sejak kita masih sekolah, meminta pada Allah agar diberi pasangan yang baik. Seperti termaktub dalam Al-Furqan ayat 74 bahwa yang kita inginkan adalah pasangan yang qurrota a’yun (penyejuk jiwa). Betul sekali, karena sisa hidup kita akan ditemani oleh pasangan kita, yang mana ketika kita salah memilih maka akan tersiksalah sepanjang sisa hidup kita.

Salah memilih itu maksudnya gimana? Kalo kata ortu saya, salah memilih itu kata lain dari mendapatkan jodoh tanpa meminta pertimbangan pada Allah sebelumnya. Menikah itu sesuatu yang penting. Salah satunya adalah karena dengan menikah, kita melahirkan peradaban baru. Logikanya, kalau unsur salah satu pernikahan alias pasangan kita didapat dari hasil egoisme atau hasrat tanpa meminta pandangan Allah, bisa jadi akan banyak hambatan dan kemudhorotan yang didapat setelah pernikahan tersebut.

Kembali ke kesiapan nikah. Ketika kita siap seadanya, tanpa melakukan usaha untuk siap, maka Allah akan pertemukan kita dengan pasangan yang kondisinya sama dengan kita. Setau saya, seseorang menemukan pasangannya ketika sudah sefrekuensi. Banyak sekali definisi frekuensi ini. Tapi secara sederhana, maksud frekuensi ini adalah kondisi ruhani dan mental kita. Kita pastinya ingin mendapatkan pasangan yang baik, maka kita juga harus memantaskan diri. Berusaha memantaskan diri. Berusaha. Belajar. Sehingga kita nantinya akan dipertemukan dengan orang yang sedang memantaskan diri juga. Bukan dengan orang yang sudah puas dengan kondisi dirinya. Orang yang sudah puas dengan kondisi dirinya bukanlah orang yang belajar.

Dan dari pembicaraan tadi, pernikahan adalah fase pembelajaran. Iya betul banget. Nah ga kebayang kalau kita mendapat pasangan yang gamau belajar karena sudah puas dengan dirinya atau yang parahnya lagi adalah orang yang gamau belajar padahal kondisi dirinya sangat ga memuaskan. Mudah-mudahan kita ga dapet pasangan seperti itu. Dan mudah-mudahan lagi, kita bukan orang yang gamau belajar itu. Jangan sampai kita punya pasangan yang menyusahkan. Ke masjid harus disuruh-suruh, ngaji harus diteriakin, kerja harus didorong-dorong. Huwaa pasti pada gamau deh cewe cewe punya imam kayak gitu. Dan jangan sampai kita menjadi pasangan yang menyusahkan.

Juga buat cewe cewe. Banyak banget yang harus dipersiapkan sebelum nikah. Dari hal yang kecil sampe hal yang besar. Hal kecil itu semacam bikinin minuman tiap pagi, masak, beberes rumah, nyuci, masang pampers, ngurus keuangan. Itu hal teknis. Mental juga harus dilatih. Yang sering sensi, marah-marah, coba lebih bersabar (gue banget). Yang sering bobo habis subuh, juga harus kuat nahan ngantuk. Dan lain-lain. Hal besar itu semacam mengatur kondisi keluarga, kondisi rumah. ‘Suhu’ rumah menjadi urusan wanita salah satunya karena wanita lah yang lebih sering di rumah dan biasanya lebih dekat dengan anak-anak. Dan masih banyak lagi PR besar perempuan sebelum memasuki dunia rumah tangga. Tapi jangan terbeban dengan beratnya tugas perempuan ketika menjadi istri dan ibu, karena sepertinya kerjaannya menarik dan tugas tersebut eksotis banget pahala dan hasilnya kalau dilakukan dengan baik dan ikhlas.

Begitulah. Dari segala penjelasan ngalor ngidul itu, intinya, kita siapin diri aja dulu. Kapan kita tau kita siap? Tanya Allah aja, istikhoroh. Siapkan diri. Luruskan niat. Menikah itu tujuannya dakwah. Suatu saat, akan Allah tunjukkan kepada kita bahwa kita sudah bisa mengatakan ‘ya, saya siap menikah’. itu kata orang lain ya, bukan pengalaman saya, karena saya belum berpengalaman di situ. Satu hal yang perlu ditekankan kembali, bahwa dengan mengatakan ‘saya siap menikah’ bukan berarti ‘kalau begitu, saya berhenti belajar’. Ya.. iya sih, berhenti belajar. Berhenti belajar sendiri, karena setelah menikah, kita jadi punya teman untuk belajar, jadi belajar bareng, hehe.  

Hm. Ada satu lagi kesamaan antara kematian dan pernikahan. Yaitu sama-sama sebuah gerbang menuju fase kehidupan selanjutnya. Fase kehidupan yang berbeda dan subhanallah, telah tertulis di lauh mahfuz. Allah tau kapan kita mati, dan Allah juga tau siapa yang akan menjadi jodoh kita. Akan lebih baik ketika kita tidak memikirkan ‘siapa ya jodoh kita nanti?’, namun lebih baik kita memikirkan kriteria jodoh idaman kita dan berusaha memantaskan diri, paling tidak dengan berusaha memenuhi kriteria yang kita buat sendiri dulu. Ohiya, soal kriteria ini juga jangan aneh2, haha. Loh trus tau ini kriteria aneh atau ngga darimana? Hm, coba diobrolkan dengan teman yang menurut kita pemikirannya ga aneh ya 😀

Ohiya (lagi). Tidak sedikit orang yang desperate ketika ditanya ‘kapan lulus?’ ketika sudah semester 9, dan tidak sedikit juga orang yang tertohok ditanya ‘kapan nikah?’ ketika sudah lulus dan kerja. Kalau udah memasuki tahap desperate ketika ditanya pertanyaan tersebut, mari tanya kepada diri kita. Apakah kita udah menyiapkan diri atau belum? Apa mungkin gaya hidup kita masih balelol sampai-sampai Allah masih belum percaya kalau kita bisa hidup bersama orang lain dan menjadi pendamping yang baik? Apa kita masih jarang mandi? Masih bobo 15 jam sehari? Masih bebecan (belanja-belanja cantik) tiap hari? Masih disuapin mamah (?)

Jadi gitu ya. Bikin Allah percaya bahwa kita siap menikah.

Begitupun yang belum lulus. Bikin Allah percaya bahwa kita pantas lulus! Allah bersama mahasiswa tingkat akhir yang berusaha, berdoa, berikhtiar dan tawakal. Bukan yang balelol @.@ #salahfokus #brbTA

 

Salam lope lope *karena topiknya tentang nikah

Image

3 thoughts on “Siap menikah (?)

  1. Suka yang bagian ini:
    “Bikin Allah percaya bahwa kita pantas lulus! Allah bersama mahasiswa tingkat akhir yang berusaha, berdoa, berikhtiar dan tawakal. Bukan yang balelol” 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s