‘Meneruskan’ Rezeki

Beberapa menit sebelum adzan maghrib berkumandang hari ini, saya masih ada di atas motor, membelah malam. Ternyata kalau kita lagi di jalan, adzan ga terdengar ya –‘

Karena saya ga tau apakah sudah adzan atau belum, saya mampir dulu ke Alfamart buat beli teh gelas (santai lah ya sebut merk, haha). Tapi entah kenapa, saya belum yakin kalau sudah adzan. Dan anehnya, saya juga ga nanya ke mas-mas Alfamart. Entah kenapa saya juga ga langsung meminum teh yang sudah saya beli. Kemudian saya lajukan kembali motor saya. Pikir saya, oh ntar aja deh diminum pas lagi di tempat beli pulsa. Rencanananya memang saya mau beli pulsa.

Saya berpikir, kios pulsa manakah yang akan mendapat rezeki dariNya melalui tangan saya?

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli pulsa di suatu tempat. Saya ga tau kenapa saya memilih kios itu. Tiba-tiba saja terpikir. Jadi saya mengabaikan semua kios pulsa yang ada. Sesampainya di sana, bapak dan ibu penjual pulsa sedang makan bersama, sepertinya sih nasi padang. Mereka makan di belakang lemari kaca kios mereka. Gelar tikar. Uuu romantisnya :* . Skip.
Dan ketika saya menulis nomor di buku transaksi (ah entahlah apa istilahnya –‘), saya ditawari segelas air mineral! kyak kyak kyaaa :3 Dan tahukah anda, ketika saya sedang minum, saya disodori lagi sepiring gorengan! kya kya kyaaaaaa :3 :3 :3

Subhanallah, rasanya ga salah pilih kios. Bapak ibu yang ramah, sedang berbuka dan bahkan memberikan takjil. Sayapun pada akhirnya tidak menyesal pergi ke sana😀

Dari kejadian maghrib itu, saya mendapat sekelumit pelajaran. Ini adalah ilmu perdagangan namun posisinya kita sebagai pembeli.

Kalo kata orangtua saya, “lel, titip beliin barang ya. kalo bisa cari yang penjualnya berjilbab”. Saya lupa barang apa yang akan dibeli saat itu, tapi saya ingat pesannya : cari yang pakai jilbab. Bukannya saya diskriminatif atau rasis, i’m so sorry, tapi yang saya tangkap di sini adalah maksud orangtua supaya saya menyampaikan rezeki tersebut kepada orang Islam dan beriman, insyaAllah dengan upaya mereka berhijab itu sudah menjadi patokan bagi kita.

Mungkin ini juga yang menjadi dasar mengapa ada orang-orang yang memboikot barang-barang tertentu. Tentunya mereka tidak rela, hasil jerih payah mereka malah diberikan pada orang yang tidak sekufu bahkan musuh agama kita sendiri. Alangkah lebih baik kalau kita ‘meneruskan’ rezeki yang kita punya kepada orang-orang yang seiman dengan kita. Ini adalah langkah kecil mungil kita untuk menaikkan derajat Muslim. InsyaAllah🙂

Saya pribadi bukan orang yang sudah memboikot barang-barang yang berasal dari musuh kita, dan juga bukan termasuk orang-orang yang tidak pernah makan fast food gedongan (KF* dkk). Semoga menjadi renungan bersama, khususnya buat saya pribadi.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s