Balada Rindu Rumah

Image

Di keluarga saya ada 7 perempuan. 1 mama, dan 6 anak perempuan.

Dan malam ini saya baru menyadari satu hal tentang 6 anak perempuan ini : gaya kerudung yang dipake saya dan adik-adik ternyata beda-beda.

Sejak kecil kita udah dipakein kerudung, tapi pas SD masih suka buka kerudung kalau lagi main sama tetangga. Dan masa SMP kita habiskan sebagian besar waktu di luar rumah, yaitu di pesantren atau boarding school yang berbeda-beda. Dan ternyata itu ada efeknya lho. Jadi ceritanya, Ramadhan tahun lalu kami foto keluarga. Tiba-tiba seorang adik nyeletuk, ‘eh kita foto baris yuk sesuai panjang kerudung,’ hahaha. Berasa banget ternyata efek keluarga dan sekolah terhadap pakaian.

Saya ceritakan sedikit ya. Yang paling panjang, kerudungnya Anis anak sholehah. Dia paling cantik, paling putih dan paling kalem diantara saudara perempuan lainnya. Dia juga perempuan paling tinggi padahal dia anak ke-5. Saya ditinggalkan. Zzz. Dia SMP di salah satu boarding school Bontang. Dulu kerudungnya tidak sepanjang itu sebelum SMP. Tapi, setelah masuk SMP, kerudungnya jadi panjang banget. Taman-temannya juga seperti itu. Jangan tanya lagi seperti apa gurunya. Minta doanyaya, supaya ia diberi keistiqomahan🙂

Panjang kedua, saya (haha pede banget masyaAllah) . Saya SMP & SMA di salah satu boarding school Anyer. Disana diwajibkan menggunakan kerudung dengan panjang kira-kira sejengkal dari ujung pundak ke bawah. 6 tahun ternyata cukup bikin saya risih buat memendekkan yang pendek-pendek pisan.

Panjang ketiga, Pipit. Dia SMP di boarding school kota gudeg, lalu SMA di Anyer. Dia yang paling ceria dan modis, haha.

Panjang keempat, Tika. SMP & SMA di boarding school Jogja. Karena sekolahnya berada di tengah kota, dia hidup di lingkungan yang lebih heterogen daripada kita-kita yang lain, yang sekolah di pegunungan. Keuntungannya, dia bakal nggak sekaget itu melihat dunia saat keluar dari sekolah. Walaupun dia yang paling pendek kerudungnya di antara wanita-wanita dewasa di rumah, tapi Alhamdulillah kerudungnya masih menutupi dada🙂

Panjang kelima, seorang adik yang sedang dalam fasa ‘pembentukan’🙂

Panjang keenam, Fathia. Bocah yang baru akan menjejakkan kaki di jenjang SD ini, nampaknya sudah bahagia dengan kerudungnya. Pernah sih dia nggak mau pakai kerudung pas ke masjid, gara-gara dia melihat Hanif (kakak laki-lakinya) nggak pake kerudung. Pas disuruh pakai kerudung, dia malah bilang, ‘biarin aja, aku kan laki-laki, Ma!’. Haha, betul-betul deh, jadi ibu ternyata harus punya jawaban yang memuaskan dan bisa dimengerti anaknya.

Tiba-tiba kebayang jadi Mama. Punya 6 anak perempuan yang berdekatan umurnya, pasti kesabarannya tinggi banget. Harus punya hati seluas telaga agar anak dapat memahami amarahnya, harus punya kekuatan puluhan kali lipat, harus punya tangan yang lembut ketika membelai, namun juga gagah ketika harus beberes rumah.

Kebayang juga jadi Ayah. Beban mulianya sebagai seorang kepala keluarga pasti sungguh, sungguh waw, dahsyat. Terus berdoa agar Allah menjaga anak-anaknya ketika tidak dalam pengawasannya. Mencari nafkah untuk sekian kepala. Waah😥

Emang dasar balada rindu rumah, dari yang tadinya bahas kerudung malah jadi curhat. 

6 thoughts on “Balada Rindu Rumah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s