curhatcurcol

Prasangka (Nyata)

(Kok kayak apa banget gitu ya judulnya :p)

Kemarin saya berencana untuk pergi ke sebuah pusat elektronik (BEC *sebutmerk) buat ngobatin laptop saya. Tadinya mau pergi ke yang dekat, tapi tiba-tiba ingat ada teman yang elektrik-gaul banget (suka elektronik-elektronikan gitu maksudnya, hehe). Akhirnya saya tanya, siapa tau ada rekomendasi tempat lain. Dan saya mendapatkannya, yaitu di sebuah Plaza yang jangankan saya tau di mana tempatnya, bahkan namanya saja saya baru dengar, Jaya Plaza.

Saat itu saya (pastinya) sedang berada di angkot Sadang Serang – Caringin, yang tadinya menuju BEC. Setelah saya bertanya ke mamang angkot, saya turun di BEC dan naik angkot Antapani-Ciroyom. Katanya turun di Ahmad Yani. Ahmad Yani luas seabreg-abreg dan itu dunia antah berantah buat saya. Akhirnya saya membulatkan tekad untuk pergi ke sana mengandalkan modal senjata mulut (nanya-nanya, red).

Ada 5 orang penumpang angkot Antapani-Ciroyom termasuk saya. Saya di pojok kanan belakang, jauh dari supir. Salah pilih tempat, jadi susah nanya. Masa teriak-teriak, nggak enak. Saya kan perempuan baik-baik :p (amiin). Di sebelah saya ada dua ibu-ibu berusia sekitar 50-60 tahun yang ngobrol mulu sepanjang perjalanan. Di bangku seberang, ada mbak-mbak yang dandanannya kayak sama resepsionis dan ada seorang ibu separuh baya di dekat pintu angkot.

Sebelum bertanya, saya biasanya cek tampang dulu. ‘Ini kira-kira tau nggak ya,’ begitu pikiran saya berulang-ulang. Setelah seleksi dilangsungkan, saya memilih mbak-mbak tadi sebagai narasumber pertama. Akhirnya saya tanya mbak-mbak itu dimana Japlaz, ternyata dia nggak tau. Perhitungan saya salah ternyata, hiks. Oh tapi saya tetap senyum dong, sebagai tanda terima kasih 🙂

Tadinya saya mau nanya ke ibu di sebelahnya, tapi entah kenapa, menurut saya beliau nggak tau. Entah kenapa, saya juga nggak tau kenapa saya mikir itu. Kan males ya. Akhirnya setelah beberapa lama, saya nanya ke ibu-ibu yang di sebelah saya.

‘Bu, kalo mau ke Jaya Plaza di Ahmad Yani gimana ya?’. With full friendly smile.

Emang dasarnya ibu-ibu suka ngobrol, menjawab pertanyaan sayapun mereka rame banget. ‘Ooh itu ya Neng, nanti Neng turun kaditu … ka diyeu ..’, Wah full sundaa gawat-gawat. Tapi saya nangkep maksudnya sih, alhamdulillah. Kursus sunda harus lebih intens nih, haha. Di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung (ini bukan ya, peribahasanya?). Dimanapun kaki kita berpijak, maka sebisa mungkin kita menyatu dengan adat, bahasa, sikap dan lain-lain yang ada di daerah itu. Dan ini ternyata salah satu manfaat si bahasa.

Akhirnya saya turun sesuai arahan si Ibu. Pas turun dan tangan saya sudah menjulur memberikan ongkos kepada mamang angkot, tau-tau ibu yang di deket pintu bilang, ‘Neng, mau ke Jaya Plaza?’. Saya bengong. Antara pikiran ‘ternyata Ibu ini mendengar apa yang tadi saya tanya ke orang-orang’ dan ‘haduh, jangan-jangan gw salah turun’.

‘Kalo mau ke sana, lebih deket turun di … (full sunda lagi)’. Intinya, saya harus naik lagi dan turun di tempat yang lebih dekat. Dan naik kembalilah saya ke dalam angkot, sambil ketawa-ketawa cengengesan, ketauan banget saya bukan anak gaul sini. Ibu-ibu yang tadi di sebelah saya juga jadi ikut nimbrung lagi. Tak disangka-sangka, ternyata obrolan sunda itu semakin ramai, cuma buat ngomongin saya harus turun dimana. Terharu :’) Berjuta nuhun saya sampaikan ketika akhirnya saya harus turun. Kali ini di tempat yang benar.

Akhir kata, saya tiba di Jaya Plaza dengan selamat, sehat wal afiat.

* * *

Sepanjang perjalanan ke JaPlaz, saya terpikir sesuatu. Ini ya yang namanya ‘look and judge by its cover’? Entah itu melihat terlalu tinggi (menganggap si mbak-mbak tau) ataupun melihat lebih -maaf- rendah (menganggap ibu paruh baya tidak tau). ‘Zhon-zhon’ semacam ini ternyata berefek sangat besar ya, walau keliatannya kecil.

Coba kalau saya percaya sepenuh hati sama si mbak, saya mungkin turun di tempat yang lebih jauh, bahkan mungkin nyasar karena ternyata mbak tadi betul-betul nggak tau. Untungnya ibu tadi memberi tau tanpa saya bertanya sebelumnya. Salutnya, beliau nggak merasa gimana gitu, padahal saya nanya ke semua orang kecuali beliau (kejam banget sayaaa T.T). Kalau ibu itu sentimen, mungkin beliau nggak bakal ngasih tau. ‘Ngapain ngasih tau, dia ga nanya ke gw ini. Yaudahlah yaa.’ dan kembali menikmati angin cendela dari pintu angkot, membiarkan saya bingung tak tentu arah. Fiuu fiuu.

Tapi alhamdulillah banget, ibu tersebut sangat legowo. Semoga keturunan beliau adalah anak-anak sholeh-sholehah, generasi muda yang baik dan berguna.

Pertolongan Allah betul-betul tak disangka. Ibu itu hanya sarana pertolonganNya. Begitu kan ya?

Kembali ke ‘Zhon’ a.k.a prasangka. Kadang saya menilai seseorang seperti ini, seperti itu. Padahal itu bisa salah, walau bisa juga memang benar. Bahkan sikap saya pun mungkin berbeda kepada orang-orang tertentu, dan itu nampakanya memberikan efek yang tidak baik untuk orang-orang tersebut dan untuk saya sendiri. Nggak enak ya, rasanya dibedakan. Pernah ngerasain nggak? Kalau belum pernah, nih saya kasih tau. Rasanya seperti kamu jualan cheese cake super enak dan rencananya mau kamu kasih gratis ke temen kamu yang sangat kamu segani karena kekerenannya, tapi ternyata dia nggak menoleh sedikitpun ke kamu, malah ngambil cheese cake dari orang lain. Jleb banget pokoknya. Lebay? Maaf, ke-melankolis-an kambuh :p

Prasangka bisa lahir dari banyak hal. Biasanya dari pemikiran dan analisa yang berlebihan akan sesuatu. Maksudnya berlebihan? Memasukkan emosi ketika sedang memikirkan atau mengatakan sesuatu. Entah emosi ‘baik’ atau emosi ‘buruk’. Yang jelas, ketika perasaan kita netral, insyaAllah si prasangka tidak akan berkelebat begitu banyak. Prasangka juga biasa (banget) lahir dari ghibah alias gosip. Nggak perlu dijelasin, kita semua pasti sudah tau rasanya menggosip dan digosipin. Semoga Allah menghapus dosa-dosa ghibah sebelumnya.

Pesan sponsor : tegur ketika saya sudah mulai menggosip.

Yeah, ini belajar. Walaupun saya masih belum bisa sepenuhnya melaksanakan ‘penyamaan sikap’, tapi sekali lagi, ini belajar. Mudah-mudahan saya, kamu, dia dan semua makhluk di dunia ini merasakan hal yang sama, dan bisa belajar bersama-sama.

‘Jauhilah prasangka. Karena prasangka adalah pembicaraan yang paling dusta. Janganlah kalian saling mengintai, janganlah saling mencuri pembicaraan, janganlah saling bersaing, janganlah saling mendengki, janganlah saling janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi. Jadilah kamu hamba-hamba Allah yang saling bersaudara’ (HR Ahmad)

Kalo nulis tentang prasangka, ternyata bisa melebar luas seperti air merembes deras dari pipa yang bocor ya, hee.

Advertisements

7 thoughts on “Prasangka (Nyata)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s