renungan

gloomy

Sebuah fragmen suram dari film kehidupan.

Ada suatu masa ketika kamu sadar bahwa dirimu ternyata bukanlah ‘kamu’ yang kamu harapkan dan kamu impikan beberapa bulan yang lalu, beberapa tahun yang lalu. Kala itu, kamu sadar bahwa kamu tidak berbeda dengan dirimu yang dulu. Tidak ada perbedaan yang berarti, tidak ada. Kalaupun ada, itu sedikit sekali, lebih kecil dari pertumbuhan semut yang diamati manusia.

Beberapa bulan itu, beberapa tahun itu, adalah ketika awal tahun baru. Juga ketika awal usia baru. Coba tengok sebentar resolusi yang ingin dicapai. Sakit, ketika tau kenyatannya, targetnya tidak tercapai. Perih, ketika tau yang terjadi malah kemunduran, tidak ada kemajuan sama sekali dalam satu poin mimpi. Rasa kecewa, kesal pada diri sendir, marah, semua campur aduk. Dan tidak ada yang tau tangis itu, kecuali keheningan malam dan Allah, Tempat Mengadu. Penyesalan datang, seperti hujan yang tidak mau tau keadaan muka bumi ketika ia turun dengan derasnya ke permukan bumi.

Tapi akan ada pelangi setelah turunnya hujan.

That’s a chance. Catch a wealsel asleep. Kesempatan itu masih ada. Kesempatan itu tidak pernah hilang. Ia ada, hanya untuk orang yang berada di depan, yang siap mengambil kesempatan itu. Kesempatan itu cuma selintas dan tidak banyak yang menyadarinya (Houtman Zaenal Arifin).

Maka ketika mimpimu belum tercapai – bukan TIDAK tercapai, sesali sajalah. Sesali, dan ambil pelajaran daripadanya. Sesal itu cuma sesal palsu, sesal cabe rawit, ketika ia cuma berupa sesal dan tidak ada api semangat yang timbul, kobaran tekad untuk berubah setelah mengetahui bahwa ia belum mencapai cita-cita ataupun belum melakukan perubahan yang lebih baik.

Sungguh berat, teman, ketika akhirnya aku harus menulis ini. Tapi ini harus dilakukan, sebagai pecut diri. Agar malu semalu-malunya ketika aku tidak menjalankannya sehabis ini, agar porak poranda ketika ternyata dalam jangka waktu yang sama ke depannya aku belum melakukan perbaikan apapun juga.

Tapi beban ini bukan beban biasa. Penjara ini cuma membuat diri terkungkung. Dan ironisnya, diri inilah yang membuat penjara itu sendiri.

 

what a night.

yatta!

 

malam dimana aku mengambil sebuah keputusan yang tidak sesuai prinsip. maafkan ya Allah, aku pun tidak mau lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s