curhatcurcol

CLBK (cerita lama ‘bercerita’ kembali)

mama : ‘lel, pipit nanya gini ke mama, ‘ma, mbak leli kok ga mau pacaran sih?’’

saya : (kalo ga ditelpon, pasti ngakak habis-habisan) ‘haha kenapa nanya gitu coba’

mama : ‘ohya, pipit juga bilang, ‘ma, mbak leli kan dulu juga pernah lho’’

saya : (jungkir balik, garuk-garuk tembok) ‘pipiiiiiiiiiiiiiittttttt! ember  amat ya ampun.. masa lalu ma masa lalu’ (salting, karena saya tidak mau orangtua saya tau, )

sekutip pembicaraan di sebuah sore dengan mama.

everyone has/have their first love story, right? hmm I think that it’s not only the first love, but also the first ‘relationship’.

bicara tentang cinta pertama, saya langsung terbayang masa SD, masih cupu, masih ingusan, masih main kejar-kejaran, sok-sok ke perpus padahal cuma pengen lewat depan kelasnya, hahaha. do you have one? dan saya ketemu si itu-saya ketika pendaftaran USM dong, betul-betul tidak disangka.

kalau bicara tentang first relationship, saya langsung terbayang masa SMP. yeah, walaupun di jaman skarang ini remaja justru mengalami pendewasaan dini, jadi bukan saat SMP, tapi SD. semoga 5 tahun lagi tidak menjadi ‘pacar pertamaku di taman kanak-kanak ibu pertiwi’. jangan sampai itu anak saya, cucu saya, keturunan saya, ya Rabb.

hmm oke. saya mau sharing pengalaman, boleh? boleh dong, kan ini lapak saya.

menurut survey, muka saya tidak menunjukkan bahwa saya pernah memiliki hubungan tertentu yang seperti itu. tetapi kenyataannya, saya pernah. salah satu alasannya adalah karena saya penasaran. penasaran setengah mati. selain karena sama-sama suka dulu, ya biasalah.

jadi, ini jawaban buat adik saya ; alasan mengapa tidak mau pacaran sekaligus pelajaran yang saya dapat :

1. melanggar prinsip yang telah tertanam dalam jiwa itu sakit sekali rasanya. walaupun saat kelas 3 SMP itu saya masih belum penuh pemahaman ‘mengapa tidak boleh pacaran?’, tapi entah kenapa, karena saya sudah menjadikannya prinsip, jadi pada saat saya melanggarnya saya merasa sangat berdosa. wow banget itu rasanya. rasanya seperti berbohong pada Allah. itu sakit sekali, dan tidak nyaman luar binasa.

2. saya merasa, saya sudah menzholimi suami saya kelak (eaaa bahasanya). bayangkan, mungkin saja saat itu si sua*i saya sedang menahan nafsunya kepada perempuan yang ia sukai saat itu dengan tidak menghubungi atau menahannya dengan banyak beribadah dan segala macam, tapi saya sedang telpon-telponan. apalagi saya maunya punya suami yang belum pernah pacaran, wow saya egois skali kalau begini terus, begitu pikir saya saat itu. maaf ya, wahai pria teman sehidup semati saya (ceritanya minta maaf lebih awal *ngeles)

3. selain menzholimi si pria masa depan saya, saya juga merasa sangat menzholimi si itu saya. kenapa? karena dengan saya menjadi itu-nya (maaf ya saya ga suka pake kata pacar, jadi pake kata ganti ‘itu’), berarti sadar ga sadar saya sudah menambah dosa dia. kasian atuh. berarti saya menjadi faktor penambah timbangan di kiri dia kelak. maaf ya bung, semoga dosa kita saat itu sama-sama terhapus. kan katanya sayang (nyekk–‘ asa menye-menye bahasanya), tapi kok saling menambah dosa masing-masing. pembual skali itu orang yang pacaran dan bilang sayang-sayang, sayang macam apa itu –‘.

4. saya merasa kurang bersyukur, karena saya pikir orang yang pacaran itu karena kurang kasih sayang. mata saya seperti belum terbuka dengan kasih sayang dari orang sekitar buat saya. maaf yang ini agak frontal, tapi coba bayangkan, ketika seseorang merasa dia telah banjir kasih sayang , maka kasih sayang dari orang yang salah pun tidak dia butuhkan. orangtua menyayangi, adik menyayangi, dan yang paling super adalah kasih sayang Allah. toh kebanyakan orang pacaran cuma karena mau dan asyik disayang-sayang (lagi-lagi menye –‘). walau banyak juga berasal dari keluarga yang penuh kasih sayang, tapi sepengamatan saya sih biasanya beda gaya pacarannya.

5. pacaran itu pintu maksiat. mau se-Islami apapun gaya pacarannya, tapi tetap saja, pacaran itu berarti sudah mengetahui perasaan masing-masing dan melegalkan perasaan itu untuk menjadi ‘surat izin’ selanjutnya. lebih susah ‘nge-rem’nya deh, yakin. yang namanya pintu maksiat, yang penjaganya si syaitan yang sangat bahagia dan berpesta-pora ketika manusia menuruti tawarannya yang menggiurkan (coba, tawaran setan mana yang ga menggiurkan? hmhm). percaya deh, awak pengalaman, hahaha.

coba lihat gambar ini :

oya, kan katanya ada tuh pacaran Islami (ada di soal UAS AAEI, bocoran deh ini), tapi saya ga setuju skali itu. ibaratnya seperti makan permen (mewakili kata Islami) pake bumbu merica (mewakili pacaran), satunya manis dan satunya pedes, dimasukkan bersamaan. rasanya? jangan tanya, saya ga kebayang.

6. alasan selanjutnya adalah alasan klasik, sperti boros pulsa (walaupun saat itu saya ga boros-boros banget karena kita pakai free talk, haha makasih ya mentari). saya ga boros uang jajan dll, karena saya longdistance, beda pulau pula, jadi maaf teman-teman, pengalaman saya cukup jarak jauh saja, ga bisa share kalau jarak dekat. ibadah jadi ga tenang pula, haduh.

7. saya merasa gagal jadi anak pertama yang oke, keren dan baik hati. macam mana pula anak pertama yang harusnya jadi contoh, malah pac*ran? maaf ayah, maaf mama, maaf adik-adik.

8. satu lagi. merusak persahabatan banget ini, masbro. FYI, saya merasa nyaman ketika saya dan dia menjadi teman akrab yang sampai membuat leonardo di caprio dan kate winslet cembur 8) . setelah masa ‘status’ itu, lalu putus, kita membutuhkan waktu yang sangat lama untuk kembali merasakan kenyamanan pertemanan yang sama seperti dulu, hiks.

teorinya : sahabat-marahan-baikan-sahabat, tapi  pacar-putus-baikan-mantan,

hmm sepertinya itu dulu, mood saya bikin laporan udah balik lagi soalnya :p. mungkin suatu saat saya lanjutkan, mungkin juga tidak. semoga bisa diambil pelajaran dari kisah kelam saya dulu. saya juga minta didoakan, agar tidak kembali ke jalan kelam tersebut, yayaya. bagaimanapun kerennya saya, saya masih remaja, hahaha,  dan perasaan indah itu pasti ada. subhanallah skali ya, Allah menitipkan perasaan yang begitu luar biasa. luar biasa rasanya, luar biasa juga tantangan untuk menjaganya tetap dalam koridorNya. biarkan perasaan ini mengalir dengan tenang, seperti air, dan berlabuh di tempat dan waktu yang tepat.

oya, ada satu keuntungan nyata yang saya rasakan dari pengalaman saya ini. yaitu ketika saya mengatakan keberatan teman saya pacaran, saya utarakan apa yang saya rasakan, kemudian dia bilang, ‘kayak udah pernah aja Lel, coba rasain dulu’, saya bisa menjawab, ‘udah, udah pernah, udah pengalaman’.

pacaran memang membuatmu berbunga-bunga, saya akui. tapi akan lebih berbunga-bunga ketika kita mampu menahannya, tetap menjaganya menjadi perasaan berbunga-bunga yang diridhoi Allah.

lagi, saya mengutip kalimat ini :

Sup Kaldu yang Bumbunya Dimakan Dulu.

Bismillahirrahmanirrahim.
Alangkah seringnya, mentergesai kenikmatan itu.
Membuat detik-detik di depan terasa hambar.
Kelezatan itu akan hilang.
Dari orang yang terpenuhi tuntutan syahwatnya yang haram.
Yang tersisa hanyalah dosa dan hina.

-Salim A. Fillah

 

pacaran boleh, tapi setelah dihalalkan (menikah, red)

jadi sarannya adalah : __________ (silakan isi sendiri)

*terinspirasi dari perbincangan dengan mama tempo hari dan ditemukannya buku harian jaman sekolahan ketika beberes tadi 🙂

12 thoughts on “CLBK (cerita lama ‘bercerita’ kembali)

  1. makasih lel sharingnya,,,skrg bisa mantpa nih klo ada yg nanya2 ’emang knp g boleh pacaran?’ ke gw,,,wahahaha

    tp tetep aja kalimat counter attack yg satu itu blm bisa hilang,,,hadeuh –‘

  2. ini first time ya kaka visit kesini, cerita2 leily enank bgt, ngalir, en gak ada kesan hiperbolisnya. mungkin itu dipengaruhi ama karakter leily sdri:)

    dan tulisan ini kaka apresiasi bgt. jarang loh ada muslimah yg gak setuju pacaran, berani menulis dgn terang2an ketidaksetujuannya tsb.

    1. penulis hebat mau berkunjung, jadi malu, hehe

      hm, sebenernya ini cerita lama yang udah pengen banget ditulis, tapi ga tau kapan dipublish. share pengalaman sebenernya kak, kalo saya mendapat keenakan dari pacaran mungkin saya bakal nulis segala keuntungan pacaran dan ngajak orang buat pacaran:D
      tapi ternyata dari pengalaman tidak berkata begitu, hee.

      lagipula saya rasa sebaiknya ada muslimah yang memulai untuk membuat dan menulis hal ini secara terang2an , untuk menguatkan muslimah lain yang sedang dilema, mungkin 🙂

  3. “oya, ada satu keuntungan nyata yang saya rasakan dari pengalaman saya ini. yaitu ketika saya mengatakan keberatan teman saya pacaran, saya utarakan apa yang saya rasakan, kemudian dia bilang, ‘kayak udah pernah aja Lel, coba rasain dulu’, saya bisa menjawab, ‘udah, udah pernah, udah pengalaman’.”

    tuh –‘

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s