Sang Prasangka Ingin Angkat Bicara

bismillahirrahmaanirrahiim

# prolog 1 : sebuah gambar

# prolog 2 : a knifepoint

berprasangka buruk adalah sebuah hobi yang tidak diakui manusia

 

# prolog 3 : sebuah kisah

Sebuah malam, di suatu bandara.  Seorang wanita sedang menunggu tengtongtengtong pengumuman penerbangannya. Masih ada beberapa waktu sebenarnya, dan akhirnya ia memutuskan membeli majalah dan roti untuk mengisi waktu.

Lalu ia pun kembali ke tempat duduknya. Tersenyum sebentar kepada seorang wanita yang duduk 2 bangku di sampingnya, kemudian membaca majalah yang baru ia beli. Sembari memakan roti. For your information, ia membeli 3 buah roti. Sebut saja rotiboy. Maaf ya ini sengaja sekalian ngiklan. Ini roti enak banget, pesenan keluarga kalau saya pulang ke rumah, karena singgah di bandara.

Ohya lanjut.

Sedang terlarut dengan si bacaan yang oke dan kunyahan rotiboy yang lezat tiada tara, tak disangka-sangka si wanita yang ada di sebelahnya mengambil roti yang ada di antara mereka berdua. Melongo-lah ia. Kehabisan kata-kata. ‘Tidak tau adat sekali wanita satu ini. Hebat, di era maju jaman gini ternyata wanita ga ada sisa-sisa kesantunan dari ibu kartini. uh&%&gyuhk&huiwhgrrxxx&%%$#’, kata setan di telinganya. ‘Ya udahlah, ikhlasin aja, lumayan dapet pahala. Menyenangkan dan mengenyangkan orang,’ tenang malaikat.

si cewek tetap sinis. Ditatapnya si mbak-mbak yang makan roti dengan lahapnya, tanpa rasa bersalah.

ikhlas? oke, coba kita lihat. rotinya tinggal 1, masih beranikah ia mengambil?

Roti di tangannya ludes, begitupun akhirnya yang ada di tangan si mbak-mbak. Dan semakin terngangalah ia, ternyata wanita itu mengambil rotinya yang tinggal satu itu! Rutukannya kian membahana. Seakan-akan material-material dalam jantungnya siap dimuntahkan. Namun wanita itu tidak langsung memakannya. Ia membelahnya menjadi 2 bagian , dan ia sodorkan satu bagian ke si cewek yang sudah misuh-misuh dengan kepulan asap panas di atas kepala. Ia sodorkan dengan tersenyum, malu, segan.

Sudah tak tertahan emosi si cewek. Diambilnya bagian itu dengan kasarnya, tanpa rasa terimakasih sama sekali. Emosinya sungguh sudah memuncak. Belum pernah ia dalam situasi semenyebalkan ini.

Tengtongtengtong yang dinantikan pun berbunyi juga. Ia segera berkemas, bahagia karena akan terbebas dari keadaan tadi. Terbebas dari orang itu. Dari si pencuri tak tau diri. Dan tibalah ia di bangku pesawat. Kembali merogoh isi tas, mencari majalah yang tadi ia baca. Dan betapa kagetnya ia. Di situ ada sekantong kue. Mengapa milikku ada di sini..?

Jadi kue tadi adalah milik wanita itu dan ia mencoba berbagi. Terlambat sudah baginya untuk meminta maaf, sebegitu malunya ia. Teringat perilakunya yang buruk terhadap wanita tadi. Teringat suudzonnya yang amat sangat. Tersadar betapa kikirnya ia.

Sesungguhnya dialah yang kasar, dan tidak tahu berterima kasih!. Dialah sesungguhnya pencuri kue itu.

 

Ini hanya sebuah kisah yang kerap diceritakan. Ini kisah tak nyata, namun kenyataannya hal serupa sering terjadi. Entah saya, kamu, dia, mereka atau kalian.

 

# realita

sekedar mencurahkan isi hati. beberapa hari belakangan, saya berkarakter seperti si cewek jahat yang suudzonnya tingkat dewa. bukan hanya kepada seseorang, namun hmm bisa-dikatakan beberapa orang.

tentang apa? saya tidak akan mengutarakannya di sini. tapi pastinya beberapa orang sudah tahu masalah saya, dan merekalah yang sadar-ga-sadar mengetahui penyesalan ini. dan Allah tentunya.

 

heihei. tau ngga? tersiksa lho puya perasaan seperti itu. kita menyalahkan orang lain, sementara saat kita bertanya kepada diri sendiri

eh lel, emangnya lo udah ngapain sih? apa ada hak buat ngejudge dia? udah lebih dewa dari dia gitu?’

dan seketika timbullah dialog dua hati, eh maksudnya dalam hati.

ga liat lo bang? gara-gara dia begini begitu blablabla dst dst gw nya jadi blablabla nyenyenye’

‘tapi liat dong. dia udah begini begitu masa lo ga ada rasa hormat-hormatnya sdikit?’

‘sebodo. gara-gara dia sih’

eaa. ketemu deh kata-kata mautnya : GARA-GARA DIA SIH

astaghfirullah.

penyebab saya menyadari kesalahan saya..karena sharing. saya mengkonsultasikan masalah saya kepada seseorang (sayangi ia, ya Allah), dan ditemukanlah jawabannya. secara tersirat, sbenarnya.

dan saya pun jadi mengerti.

akar dari buruk sangka adalah : ketidaklengkapan informasi dan egoisme.

 

Hei prasangka buruk, kau jahat sekali. Seringkah berpikir seperti itu?

Padahal ketika kau berpikir seperti itu, itulah pikiran burukmu. Itulah jurang dalam dirimu.

 

# epilog :

malu memang. tapi belum ada kata terlambat. ketika kau menyadari sesuatu yang saah pada dirimu, jangan pernah mengatakan bahwa hal itu sudah terlambat untuk disesali. Allah memberimu waktu. masih ada kesempatan dariNya yang diberikan pada kita, hambaNya yang pabalatak ini, untuk memperbaiki. untuk menjadikan semuanya lebih baik lagi.

Ia meminta kita belajar.

Subhanallah. terimakasih untuk kesadaran yang hadir lebih awal.

maaf karna tidak bisa untuk meminta maaf secara langsung, tapi insyaAllah prasangka buruk padamu berwujud pahala untukmu, menggugurkan dosa-dosamu. amiin.

 

ayo sama-sama menjadi pribadi yang lebih baik. :))

sungguh masalah kecil ini hanya parasit di jalan dakwah. hanya kerikil. tinggal ditendang dengan kekuatan iman!

0 thoughts on “Sang Prasangka Ingin Angkat Bicara

  1. Sikap-sikap seperti ini biasanya muncul karena kita sering terburu-buru berprasangka terhadap suatu perkara yang belum jelas. Atau kalaupun sudah jelas perkara tersebut, kita kurang bijaksana dalam mensikapinya, ini tertera dalam surah / surat : Yunus Ayat : 36

    wamaa yattabi’u aktsaruhum illaa zhannan inna alzhzhanna laa yughnii mina alhaqqi syay-an inna allaaha ‘aliimun bimaa yaf’aluuna

    36. Dan kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja. Sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran []. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan.

    [] Sesuatu yang diperoleh dengan prasangkaan sama sekali tidak bisa mengantikan sesuatu yang diperoleh dengan keyakinan.. Maka yang muncul kemudian emosi, marah, mau menang sendiri, dan tidak mau mendengarkan pendapat orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s